Jeda
Malam Minggu kemarin, kami sepakat mengambil jeda dari dunia maya. Rencananya sederhana: berkeliling kota naik motor, menikmati gemerlap lampu-lampu dan dinginnya angin malam. Ayah Nisaa memang berniat membeli tahu tek. Nisaa sibuk memperhatikan badut yang lewat, matanya berbinar. Sedangkan aku… belum benar-benar tahu ingin apa malam itu. Hingga di sudut paling hening dari keramaian Pasar Ngarsopuro, aku melihat sebuah lapak buku. Tak banyak memang, hanya beberapa buku sederhana, tapi cukup menarik kakiku untuk mendekat. Seperti biasa, ayah Nisaa akan bertanya, “Mau, Dik?” Dan seperti biasa pula, aku hanya tersenyum. Tak mengiyakan, tak juga menolak. Kami tahu, tempat itu, lapak kecil berisi buku-buku adalah tempat yang kerap kami datangi hanya untuk membuka lembar demi lembar, mencium aroma kertasnya, dan merasa tenang tanpa perlu membeli apa-apa. Tanganku mulai menjelajah, menyentuh punggung-punggung buku yang berjajar miring, beberapa sudah menguning, lainnya lusuh namun masih tegar...