Jeda


Malam Minggu kemarin, kami sepakat mengambil jeda dari dunia maya.
Rencananya sederhana: berkeliling kota naik motor, menikmati gemerlap lampu-lampu dan dinginnya angin malam.

Ayah Nisaa memang berniat membeli tahu tek.
Nisaa sibuk memperhatikan badut yang lewat, matanya berbinar.
Sedangkan aku… belum benar-benar tahu ingin apa malam itu.

Hingga di sudut paling hening dari keramaian Pasar Ngarsopuro, aku melihat sebuah lapak buku.
Tak banyak memang, hanya beberapa buku sederhana, tapi cukup menarik kakiku untuk mendekat.

Seperti biasa, ayah Nisaa akan bertanya, “Mau, Dik?”
Dan seperti biasa pula, aku hanya tersenyum. Tak mengiyakan, tak juga menolak.
Kami tahu, tempat itu, lapak kecil berisi buku-buku adalah tempat yang kerap kami datangi hanya untuk membuka lembar demi lembar, mencium aroma kertasnya,
dan merasa tenang tanpa perlu membeli apa-apa.

Tanganku mulai menjelajah, menyentuh punggung-punggung buku yang berjajar miring, beberapa sudah menguning, lainnya lusuh namun masih tegar karena dibungkus kembali oleh penjualnya.
Aku tak mencari apa pun sebenarnya. Tapi bukankah memang sering begitu: hal yang paling berkesan justru datang tanpa direncanakan? Heheh

Satu buku kecil menarik perhatianku. Masih tersegel, judulnya nyaris menegunkan hatiku. Tapi entah mengapa, jari-jariku berhenti di sana.
Kubolak balik perlahan. Sampul pertamanya menyimpan catatan judul yang sangat aku butuhkan:
“seperti sungai yang mengalir.”

Aku diam. Rasanya seperti membaca pesan yang tertuju padaku, dari masa lalu yang tak kukenal.

Ayah Nisaa berdiri tak jauh, menggendong Nisaa yang mulai mengantuk. Ia hanya menatapku sebentar, lalu tersenyum seolah berkata, “Kalau itu membuatmu tenang, ambillah.”

Dan malam itu, aku pulang tak hanya membawa tubuh yang lelah setelah berputar kota, tapi juga selembar kecil bahagia dalam bentuk buku tua, yang aromanya masih tersisa di ujung jemariku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jodoh Dari Muhammadiyah

Pulang