Pulang
Selalu ada kelegaan setiap kali kaki menjejakkan pada tanah tempat berasal, pun ada kenangan yang menyesakkan manakala pulang tidak lagi menemukan pelukan. Pulang tidak lagi soal kembali kerumah kenangan, lebih kepada meyakinkan diri bahwa tanah kelahiran selalu membalut kerinduan.
Disepanjang perjalanan, ritme jantung berubah, nafas pun ikut berubah seolah telah terdengar suara televisi yang mengeras, aroma masakan ibu yang harum tercium, serta tawa tawa masa kecil yang terdengar nyaring. Semua hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah menetap lama disana.
Pulang adalah pertemuan antara masa kini dengan manisnya kenangan. Kadang, pulang tak selalu menenangkan. Ada ruang-ruang yang terasa sempit oleh harapan yang tak terpenuhi. Ada wajah-wajah yang menua, membuat waktu terasa lebih nyata dari biasanya. Tapi meski tak sempurna, pulang tetap menjadi pelabuhan. Tempat kita menanggalkan peran dunia yang sementara,
Tempat dimana kita tidak bisa berpura-pura. Tempat kita menjadi anak, bukan lagi tokoh utama dalam drama dunia orang dewasa.
Dan saat kita harus pergi lagi, ada sesuatu yang tertinggal. Bukan barang, bukan janji. tapi rasa. Rasa bahwa kita pernah dimengerti tanpa perlu menjelaskan. Bahwa kita pernah diterima tanpa perlu menjadi apa-apa.
Itulah pulang. Ia tidak selalu berarti kembali. Tapi ia selalu mengingatkan, bahwa kita pernah memiliki tempat, dan tempat itu, meski tak selalu ada di peta, selalu ada di jiwa
Komentar
Posting Komentar