Jodoh Dari Muhammadiyah
Awalnya kami cuma dua orang yang kebetulan berada di barisan yang sama: barisan yang percaya bahwa kemanusiaan selalu lebih tinggi dari politik. Dari teriakan solidaritas di aksi bela palestina, sampai tumpukan proposal dan program di LazisMu, kami bergerak tanpa pernah berpikir bahwa takdir juga sedang bergerak ke arah yang sama. Cieee. 😆
tujuh tahun lalu, kami tidak pernah menyangka bahwa teriakan solidaritas di aksi bela Palestina akan menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Kami hanya dua orang yang kebetulan berdiri di barisan yang sama, barisan yang percaya bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga.
Ditengah-tengah itu semua, semesta rupanya sedang menyusun sesuatu yang lain: menyatukan dua hati yang tidak sedang mencari, tapi ternyata saling menemukan. semesta ngomong: “nih, kalian cocok, lanjut!” 😆
Kami mungkin tidak sadar.
Atau mungkin sadar… tapi pura-pura tidak tahu.
Begitu saja dalam dua bulan yang padat dan riuh, kami merasa ada alur yang bergerak lebih tenang dari sekadar kerja tim.
Sampai akhirnya kami sepakat, kisah ini tidak akan berlabuh ke mana-mana, kecuali di hadapan penghulu.
Biar sederhana.
Biar sunyi.
Biar sakral.
Visi misi kami pun tetap sama sejak hari pertama.
saling menyembuhkan, saling tumbuh, dan saling merentangkan pelukan di beranda rumah yang kadang utuh, kadang rapuh, tapi selalu kami bangun kembali bersama.
Hari ini, setelah tujuh tahun penuh perjalanan
naik turun, tawa dan air mata, jeda dan kembali,
kami melihat bahwa semua itu bukan kebetulan.
Itu adalah cara semesta berkata “kalian dipertemukan bukan tanpa alasan.”
Dan tiap kali mengingatnya, kami masih suka tertawa kecil : siapa sangka ada versi “jodoh dari Muhammadiyah”?
Bukan bertemu di pedalaman, tapi di rapat yang molor dan agenda sosial yang tidak pernah selesai.
Lucu, ajaib, dan tetap kami syukuri sampai hari ini.
pernikahan kami seru. SERU banget.
Saking serunya, timeline pergi keluar kami tuh kayak antrian bus kota.
nggak pernah berhenti, selalu bergantian.
Hari ini dia ada kegiatan, besok aku yang keluar,
lusa gantian lagi, kayak shift kerja, tapi versi rumah tangga.
Capek? Iya.
Ketawa? Sering.
Nyerah? Gak pernah.
Karena justru dari “keramaian” itu, kami belajar menjaga ritme satu sama lain.
Apakah kami pernah termenung dengan amburadulnya kerjaan rumah ?? sering!!!
Saking capeknya, kami cuma saling pandang tumpukan baju,
menghela napas panjang,
lalu kompak bilang:
“Udah. Tidur aja.”
Bajunya?
Dikasih kesempatan merenung. wakaka
Rumah kami pernah mirip kapal pecah, Bukan sekadar berantakan…
INI LEVEL “PENELITI BUTUH GPS” huawawa
Dan kami mencapai titik puncak kewarasan:
daripada pulang lalu melihat kekacauan yang menyayat jiwa,
kami sepakat untuk…
tidak pulang dulu.
Iya.
SENGAJA gak pulang.
Kami healing di luar rumah daripada healing sambil lihat jemuran numpuk.
Kami bisa koordinasi event besar dalam 24 jam. Tapi koordinasi “siapa nyapu duluan?”
Butuh musyawarah nasional.
Itu pun ujungnya: “ya udah, biarin aja dulu. Kita makan dulu lah.”
Tapi justru di kekacauan itu kami tumbuh.
Justru di canda dan capek yang absurd itu kami saling jaga.
Justru di rumah yang kadang rapi, kadang chaos, kami belajar jadi tim yang beneran hidup.
Selamattttt ya beb, kita telah membuktikan jodoh dari muhammadiyah itu tangguh-tangguh wkwk
Komentar
Posting Komentar