Rumah atas kelahiran
Rumah Atas Kelahiran
Masihkah sanggup ku peluk kau di dalam do'a.. atas pertemuan yang kita pinta sudah terlaksana. kita yang hendak bersinggung saat sore menjelang senja kala, tapi katamu ; aku masih ingin dalam dekap gua garba sang mama. kau tak biarkan aku nyenyak malam itu, sementara tak tuk sepatu tak terdengar lagi, kokok jago sudah bersiul kembali.
Pagi nanti kita sama-sama melangkah meramu temu, membiarkan cendawan rindu mekar di ujung-ujung taman. kala rasa gelisah tiba, ku tanya padamu ; bukankah engkau tak sabar bertemu denganku ?
Jangan lagi kau hindari berjuta kesan yang akan terlahirkan, air hujan yang keluar tak pernah minta ditarik ke atas. mengalir deras dari sudut-sudut manapun mengikuti titah sang pencipta. Pertemuan tak dapat dihindarkan; kali ini engkau abadi dalam doa dan pelukanku yang nyata.
Kita akan baik-baik saja. Jikalau tidak, mungkin itu bukanlah sebuah akhir; yang tanpa kita sadari, kita sudah menduga sebuah akhir dari kebenaran yang tak teruji..
Suaramu menenangkan lorong kalbu, ia bermuara pada telinga siapa saja yang ada didekatmu. aku, mereka, siapa saja yang hendak kau sapa. sorot matamu mengingatkanku akan pecahnya cinta saat akad tertuang sebagai janji di atas sajadah surga ; itulah janji yang menjadikanmu ada.
Komentar
Posting Komentar