Ketenangannya bukan sekadar diamnya raga,
melainkan persetujuannya hati pada hikmah yang belum terbaca.
Dan di suatu malam yang sunyi, aku bertanya di langitsendiri,
kenapa kesendirian begitu sering mengetukku,
padahal aku telah berusaha untuk patuh, menjauh dari yang sia-sia.
Lalu malam menjawab melalui hembusan lembut yang samar:
“Engkau gelisah bukan karena takdir yang berat,
melainkan karena sangkamu yang salah pada Tuhanmu.
Engkau meremehkan tangan yang menggenggam hidupmu,
padahal dari sanalah segala rahmat bermula.”
Aku terdiam.
Mungkin benar, akulah biang dari riuhnya batin.
Saya berbicara tentang ikhlas, namun masih menakar hasil.
Aku tertawa tentang bahagia, namun hatiku masih menuntut keadilan.
Aku tersenyum seolah reda,
padahal jiwaku diam-diam menolak arah yang dipilih semesta.
Maka aku bertanya lagi pada diriku sendiri.
Bagaimana mungkin aku menjemput dengan tenang,
jika aku masih bersikeras melawan keinginan yang lebih tahu daripada aku?
Ketenangan, rupanya, bukan sesuatu yang dicari.
Ia adalah hadiah yang datang ketika hati berhenti menggugat.
Saat prasangka baik tumbuh menjadi doa,
dan jiwa akhirnya pulang pada percaya.
Dan aku ingin memamggilnya, tenang itu tentang khusnudzon kepada Pengatur semesta
Komentar
Posting Komentar