Gelang Rahasia
Pulang sekolah sekitar jam setengah dua siang.
Sampai rumah, taruh tas, ganti baju, lanjut masak buat makan sore: sayur bening ceme, sambal, ayam goreng, dan urap.
Sayurnya gratis dari sekolah — lumayan, bisa ngirit lima belas ribu buat jajan 😆
Waktu lagi petik-petik bayam, si Nca bantuin. Tangannya gesit, tapi lidahnya nggak kalah lincah.
“Ibuk, tadi aku dikasih gelang sama si P. Tapi dia bilang nggak boleh dibilangin ke Ibuk.”
Aku pura-pura serius.
“Terus?”
“Ya dia bilang, kalau aku cerita nanti aku disuruh ngembaliin. Emang iya, Buk?”
Aku ga kuat untuk tidak ketawa,
“Ahahah iya bener. Besok gelangnya dikembalikan, ya. Coba tanya dulu, si P udah izin belum ke ibunya. Takutnya itu gelang dibelikan orang tuanya, dan mereka bisa sedih kalau dikasihkan ke orang.”
“Ibuk marah?”
“Nggak, kok. Tapi kenapa kamu cerita? Kan katanya jangan bilang Ibuk?”
“Ya gapapa, aku suka cerita aja sama Ibuk.”
Dan di situ, aku diem sebentar.
Ternyata rasa percaya itu sederhana ya, cuma butuh ruang aman buat bercerita.
Meskipun ibuknya galak. Tapi masih jadi tempat pulang paling nyaman 💛
Teramat manissss
BalasHapus