Rindu Itu Bernama Pulang
Iya… kita pulang.
Bukan karena dunia perantauan tak lagi ramah,
tapi karena jiwa terlalu kering hingga lupa cara pulang untuk beristirahat.
Sudah berapa musim kita menunda menoleh ke belakang, mengira kuat itu berarti terus berjalan,
padahal rindu diam-diam menunggu di ambang pintu.
Kita pulang nih?
dengan langkah yang mungkin tak secepat dulu,
namun hati yang akhirnya jujur
bahwa sejauh apa pun pergi,
kerinduan selalu tahu jalan untuk kembali.
Sudah berapa lama kita tidak menatap beranda rumah dengan utuh?
Bukan sekadar bangunan,
tapi tempat di mana waktu pernah berjalan lebih pelan,
di mana napas tak perlu dijaga,
dan menjadi diri sendiri tidak perlu izin siapa pun.
Di perantauan, kita belajar bertahan.
Belajar tersenyum meski dada sesak,
belajar bilang “aku baik-baik saja”
padahal rindu sering datang diam-diam
saat senja, saat hujan, saat lelah tak punya tempat pulang.
Karena ternyata rindu tidak pandai berhitung,
ia hanya tahu menumpuk, sedikit demi sedikit
sampai akhirnya menemukan jalannya sendiri : pulang.
Jadi kita pulang?
Dengan langkah yang mungkin lebih pelan,
dengan jiwa yang membawa banyak cerita,
luka kecil, pelajaran, dan doa-doa yang tak sempat terucap.
Kita pulang bukan karena gagal di perantauan,
tapi karena rumah adalah tempat
di mana rindu boleh luruh,
di mana air mata tak perlu disembunyikan,
dan hati boleh kembali menjadi manusia.
Hari ini kita pulang, ya.
Dan biarlah rumah itu memeluk
tanpa tanya berapa lama pergi,
tanpa menagih penjelasan.
karena rumah tahu,
sejauh apa pun kita melangkah,
kita selalu membawa namanya di dada.
Komentar
Posting Komentar