Postingan

PUASA PERTAMA NISA DITAHUN KEDUA 1447H

Gambar
Hari Pertama Puasa – 18 Februari Alhamdulillah, hari pertama puasa berjalan mulus. Si Nisaa ternyata enjoy sekali. Saat sahur pun ia lahap menghabiskan sayur jamur dan telur hangat yang tersaji. MasyaAllah, sholihah kecilnya ibuk siap menaklukkan hari. Seusai Subuh, langkah kecilnya ringan penuh semangat. Doanya sederhana, “Semoga puasanya lancar.” Pulang dari masjid, berbagai planning sudah ia susun sendiri: main sama Koko si kucing corak sapi, mewarnai, lalu membaca buku. Dan tentu saja… presensi Katuri tetap hadir, menemani perjalanan puasanya hari itu. Menjelang pukul 17.00, mulai terlihat perjuangan level berikutnya. Ia menghitung jam, lalu bertanya dengan wajah penuh harap, “Boleh nggak ya bukanya jam 5?” Mohon maaf, sholihah… aturan tetap aturan 😌 Buka puasa sesuai jadwal, pukul 18.02. Bersabarlah sedikit lagi, karena kemenangan memang perlu ditunggu. Dan ketika adzan akhirnya berkumandang… sorak gembira pecah! Air tegukan yang mengalir memutus dahaga terasa seperti...

Rindu Itu Bernama Pulang

Gambar
Iya… kita pulang. Bukan karena dunia perantauan tak lagi ramah, tapi karena jiwa terlalu kering hingga lupa cara pulang untuk beristirahat. Sudah berapa musim kita menunda menoleh ke belakang, mengira kuat itu berarti terus berjalan, padahal rindu diam-diam menunggu di ambang pintu. Kita pulang nih?  dengan langkah yang mungkin tak secepat dulu, namun hati yang akhirnya jujur bahwa sejauh apa pun pergi, kerinduan selalu tahu jalan untuk kembali.  Sudah berapa lama kita tidak menatap beranda rumah dengan utuh? Bukan sekadar bangunan, tapi tempat di mana waktu pernah berjalan lebih pelan, di mana napas tak perlu dijaga, dan menjadi diri sendiri tidak perlu izin siapa pun. Di perantauan, kita belajar bertahan. Belajar tersenyum meski dada sesak, belajar bilang “aku baik-baik saja” padahal rindu sering datang diam-diam saat senja, saat hujan, saat lelah tak punya tempat pulang. Karena ternyata rindu tidak pandai berhitung, ia hanya tahu menumpuk, sedikit demi sedikit...

Jodoh Dari Muhammadiyah

Gambar
Awalnya kami cuma dua orang yang kebetulan berada di barisan yang sama: barisan yang percaya bahwa kemanusiaan selalu lebih tinggi dari politik. Dari teriakan solidaritas di aksi bela palestina, sampai tumpukan proposal dan program di LazisMu, kami bergerak tanpa pernah berpikir bahwa takdir juga sedang bergerak ke arah yang sama. Cieee. 😆 tujuh tahun lalu, kami tidak pernah menyangka bahwa teriakan solidaritas di aksi bela Palestina akan menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Kami hanya dua orang yang kebetulan berdiri di barisan yang sama, barisan yang percaya bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga. Ditengah-tengah itu semua, semesta rupanya sedang menyusun sesuatu yang lain: menyatukan dua hati yang tidak sedang mencari, tapi ternyata saling menemukan. semesta ngomong: “nih, kalian cocok, lanjut!” 😆 Kami mungkin tidak sadar. Atau mungkin sadar… tapi pura-pura tidak tahu. Begitu saja dalam dua bulan yang padat dan riuh, kami merasa ada alur yang bergerak l...

Gelang Rahasia

Gambar
Pulang sekolah sekitar jam setengah dua siang. Sampai rumah, taruh tas, ganti baju, lanjut masak buat makan sore: sayur bening ceme, sambal, ayam goreng, dan urap. Sayurnya gratis dari sekolah — lumayan, bisa ngirit lima belas ribu buat jajan 😆 Waktu lagi petik-petik bayam, si Nca bantuin. Tangannya gesit, tapi lidahnya nggak kalah lincah. “Ibuk, tadi aku dikasih gelang sama si P. Tapi dia bilang nggak boleh dibilangin ke Ibuk.” Aku pura-pura serius. “Terus?” “Ya dia bilang, kalau aku cerita nanti aku disuruh ngembaliin. Emang iya, Buk?” Aku ga kuat untuk tidak ketawa,  “Ahahah iya bener. Besok gelangnya dikembalikan, ya. Coba tanya dulu, si P udah izin belum ke ibunya. Takutnya itu gelang dibelikan orang tuanya, dan mereka bisa sedih kalau dikasihkan ke orang.” “Ibuk marah?” “Nggak, kok. Tapi kenapa kamu cerita? Kan katanya jangan bilang Ibuk?” “Ya gapapa, aku suka cerita aja sama Ibuk.” Dan di situ, aku diem sebentar. Ternyata rasa percaya itu sederhana ya, cuma butuh ruang aman...

Perjalnan

Gambar
 Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak berjalan sebagaimana kita harapkan. Kita menyusun rencana dengan keyakinan, menetapkan tujuan dengan semangat, lalu menyelipkan doa-doa di antara harap dan usaha. Namun tetap saja, tak jarang semesta membawa kita ke jalan yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Ada harapan yang kita rawat sepenuh hati, lalu gugur sebelum sempat mekar. Ada doa yang telah lama melangit, namun saat terkabul, datang dalam bentuk yang tak kita kenali. Bukan karena Allah tak mendengar, tapi karena Ia tahu lebih dulu apa yang benar-benar kita butuhkan. Kadang-kadang kita kecewa. Tanya-tanya, kenapa semua tak sesuai rencana? Kenapa bukan aku yang dipilih? Kenapa harus dimulai? Lalu hati pun diam-diam lelah mencari alasan. Tapi di sanalah letak perjalanan ini, sebuah proses untuk belajar percaya, bahkan saat kita belum mengerti. Sebab hidup bukan soal mengendalikan segalanya, tapi tentang bagaimana kita berserah tanpa kehilangan arah. Tentang bagaimana kita tetap...

Manis

Gambar
  Minggu pagi dimulai dengan manis: setelah mengantar ibuk kuliah, ayah dan nca mulai dari membeli sarapan, lalu muter kampus sebentar. Pulang-pulang, langsung disambut dengan kehebohan rumah: jemuran yang belum naik, keran yang memotret tiba-tiba, dan Nca yang lari-lari sambil teriak, “Ayahhh, ayoo main masak-masak!”—bikin ayahnya cuma senyum sambil tarik napas panjang ala drama Korea. Kalau dibikin novel, 3 hari ini bisa tebal 500 halaman. Euforia kuliah ibuk plus kegiatan NA di Solo bikin rumah kayak panggung hiburan. Nca sibuk nyisirin ibuk (hasilnya antara gaya model dan gaya eksperimen), ayah Reynal bikin kopi sambil jadi alarm hidup: “Cepet mandi, nanti telat!”—dan di luar, menangis anak jadi tetangga soundtrack gratis. Minggu sore ditutup migran, bersandar mie anglo, dan ucapan manis bernada waspada: “Dek, jangan kaget ya kalau rumah tidak sesuai ekspektasi.” Artinya? Ya siap-siap disambut kerjaan. Tapi ya begitulah… di rumah ini, bonus ributnya, paket capeknya lengkap, bah...

Manusia Kuat

Gambar
 Manusia Kuat  Tidak perlu hadir sebagai nasehat, cukuplah hadir dengan energi yang positif. Terkadang manusia tidak membutuhkan banyak kata, mereka hanya membutuhkan rasa aman saat bersamamu.  Keberadaanmu yang tenang bisa jadi jawaban dari keresahan yang tak terucap. Tak selalu harus memberi nasehat, karena senyummu saja bisa jadi penyemangat. Tak selalu harus menunjukkan jalan, karena genggaman tanganmu sudah cukup menuntun.  Hadir dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan aura yang hangat, seringkali jauh lebih berarti dari ribuan kalimat yang berusaha menguatkan. 🌞 X